Serunya SEA Games XXVI Part II

"Prriiiiiiiittttt.....!!!" Peluit panjang dibunyikan tanda kick off pertandingan telah dimulai. Pekikan suporter dan terompet membahana di seluruh sudut GBK. Luar biasa banget Jakarta malam hari itu.
Hal2 kaya gini ini yang bikin gue kadang enggak nyesel dengan eksistensi Jakarta.

Tiba2 timbul inisiatif ngajak Nisa tebak2an skor. Setelah menerawang jauh, dibantu Ki Pamenukan (Entah siapa orang ini karena gue juga ngasal nyebutinnya) datanglah sebuah wangsit: "Kau pilihlah skor 2-0 untuk Indonesia. Jangan lupa traktir2 aku ya kalau kau menang!" Bah..sontak gue kaget, kenapa tiba2 bisa ada orang batak ngebisikin gue. Jangan2 ini si Ucok.
Sementara itu Nisa berfikir sejenak, "3-1, Indonesia menang!" ujarnya dengan mantap.

Di awal pertandingan kedua tim langsung tancap gas. Jual beli serangan terjadi di menit2 awal. Okto dan Andik beberapa kali melakukan dribling berbahaya ke kotak penalti lawan. Enggak jarang mereka silih berganti mengirim umpan matang ke jantung pertahanan Thailand. Lawan enggak tinggal diam. Begitu ada kesempatan counter attack mereka langsung melakukan tusukan berbahaya ke daerah 12 pas. Beruntung Kurnia Meiga begitu sigap mengawal bola di bawah mistar gawang.

Oh iya, tadi sebelum berangkat ke GBK, nyokap sempat ngasih popcorn yang baru aja digorengnya. Beliau bilang buat teman gue ngemil di stadion. Ditengah percakapan, Nisa buka2 plastik berisi chiki2 yang gue beli di Alfa. Tapi ternyata enggak digubrisnya makanan itu. Reaksinya berbeda pas gue ngeluarin popcorn ini. Dengan lahapnya dia makan. Senang banget ngeliatnya. Gue yang gak mau kalah juga ikut2an makan. Akhirnya kami berdua malah larut dalam suasana makan popcorn bareng..
Malam hari itu suporter nampak sangat kompak. Beberapa kali kami membentuk gelombang lautan merah yang sangat dahsyat. Arusnya bergelombang dengan sangat rapi. Tiap kali gelombang datang, kami berdua ikut2an loncat sambil melambai2kan tangan ke atas. hehehe. Pokoknya seru deh. Ini jadi moment berharga yang belum tentu bisa kami ulang lagi suatu saat nanti. Sementara Nisa, mungkin dia gak pernah tahu bahwa malam itu ada laki2 yang memperhatikan raut wajahnya begitu dalam, dan sangat dalam..

Kami gak banyak ngobrol ketika pertandingan berlangsung. Mungkin Nisa gak mau ganggu gue yang kelihatannya lagi asik dan serius nonton bola. Mungkin juga dia capek ngeliat gue bangun-duduk-bangun-duduk sambil sesekali berteriak histeris tiap kali Indonesia mendapatkan peluang.

Memasuki menit 33' terjadi kemelut didepan gawang Thailand. Kipouw yang menerima bola daerah dari Andik segera memberikan umpan ke kotak penalti setelah sebelumnya mengecoh seorang bek Thailand. Tibo yang berdiri bebas tanpa kawalan menanduk keras bola tsb dan kemudiaaan... GOOLLL!! Puluhan ribu suporter menyambut gol tsb dengan sangat antusias. Dentuman drum ditabuh menggelegar. Suporter di tribun semakin bergelora menyerukan "INDONESIA...INDONESIA.."

Selebrasi tiap orang merayakan gol Tibo sangat bervariatif. Mulai dari yang lompat2, teriak, ngibarin bendera, ngebentangin syal, bahkan sampe ada yang diam aja seolah gak terjadi apa2. Gue enggak tahu dia punya masalah apa di rumah, yang jelas gue berharap semoga pas pulang orang itu gak mampir ke warung beli obat nyamuk.

Kalo gue ngerayain gol Tibo tadi standar2 aja; Lompat2 terus langsung shit up. Sementara Nisa, ia membentangkan syal bertuliskan I LOPE INDONESIA. Ya..Kita semua cinta negeri ini.
Seperapat jam setelah gol Tibo, babak pertama berakhir. Masih untuk keunggulan Indonesia 1-0. Istirahat ini kami manfaatkan untuk menyambung obrolan yang tadi sempat terputus. Nisa selalu mendominasi cerita disetiap pertemuan. Peran gue adalah jadi teman pendengar yang berusaha menjalankan tugasnya dengan baik. Terus terang aslinya gue enggak seterbuka dan seatraktif di sini. Jadi buat teman2 yang lagi kepingin banyak tahu tentang gue, silahkan baca blog ini.

Pertanyaannya yang timbul sekarang adalah..adakah orang yang kurang kerjaan seperti itu hah??! hihi..

Hari itu Nisa banyak bercerita tentang sekolahnya. Ada beberapa perkembangan yang terjadi di sana yang banyak gue lewati. Mulai dari cerita tentang teman2nya, perkembangan studinya, penerapan absen di sekolah dengan metode sidik jari, dan lain2.

Waktu relatif cepat berlalu kalo kita nikmati. Lagi asik ngerumpi diskusi, ternyata babak kedua sudah dimulai. Sayang, belum lama pertandingan berjalan, Indonesia harus kebobolan lewat tendangan penalti yang dilesakan Rannachai Rangsiyo, penyerang sekaligus kapten tim Thailand. Skor berubah, 1-1. Namun hal itu sama sekali enggak menyurutkan semangat para pemain untuk terus berjuang. Termasuk kami yang enggak akan mengurangi intensitas dukungan untuk mengangkat moral pemain dari tribun penonton. 

Terus mengacak2 pertahanan Thailand dengan sporadis, akhirnya pada menit 65' berbuah hasil. Patrich Wanggai berhasil menceploskan si kulit bundar sehingga merubah kedudukan menjadi 2-1 untuk Indonesia. Lagi2 puluhan ribu suporter menyambut gol dengan sangat antusias.

Setelah gol itu kami memutuskan untuk pulang. Oh iya gue lupa tadi pas di perjalanan sempat mampir beli permen karet . Harusnya sih buat teman ngunyah di tribun. Tapi karena baru ingat, ya dijadiin teman di jalan aja. Waktu itu Kita sempet lomba besar2an gelembung, balon, atau apalah itu namanya. Sayang hari itu gue mesti mengakui ketangguhan Nisa. Sumpah hasil kreasi besar banget. Kalah telak gue. hehehe
Bakat tukang tiup balon
Gak lupa kami juga melakukan ritual jeprat-jepret kamera. Kadang naluri foto model dalam jiwa kami itu bisa timbul sewaktu2 dengan sangat ekstrim dan gak bisa ditahan. Khususnya Nisa yang malam itu mengeluarkan bentuk model baru. Gak tahu gue itu gaya anak gaul apa anak alay, atau mungkin kombinasi keduanya. Cuma Nisa dan Tuhan yang ngerti..


Saat akan memasuki pintu keluar, tiba2 terdengar kembali sorak sorai penonton membahana berteriak "GOOOLLL..GOOOLLL"

Ini artinya pertandingan berakhir dengan skor 3-1. Luar biasa speechless gue. Perempuan yang tebakan skornya tadi gue sepelekan, ternyata sangat jitu! 3-1, Indonesia menang.

Rasa2nya kemenangan mencolok ini jadi pembalut.. erm, agak kurang enak didengar. Maksud gue jadi pembungkus yang manis untuk dunia persepakbolaan kita yang tengah diguncang konflik berkepanjangan.

Semoga loncatan besar ini menghantarkan Timnas Indonesia menuju daratan luas yang tiada tara kelak. Daratan prestisius yang menjadi mimpi ratusan juta anak kecil di dunia. Kita menyebutnya.. PIALA DUNIA.

Rasanya dalam beberapa waktu belakangan ini gue ngerasa ada sesuatu yang kurang dan hilang. Sekarang baru sadar, ternyata udah lima bulan ini kami enggak pernah ketemu lagi. Mungkin sesuatu yang kurang tadi adalah absennya dia selama ini. Atau mungkin juga bukan. Ah..Entahlah, gue juga kurang peduli dengan hal itu. Yang jelas Tuhan selalu ngasih hal yang paling baik untuk umat-Nya. Kita hanya diminta berusaha, berdoa, dan berfikir postif. Selebihnya biarkan rencana indah-Nya datang. Begitupun dengan hal ini. Mungkin saja Tuhan sengaja menunda kesempatan sepasang sahabat yang hina dina untuk saling bersua. Menghendaki segalanya merenggang dalam keadaan melayang. Sampai benar2 waktu yang sangat biasa itu datang dengan kejadian2 yang tidak biasa menyertai keduanya.
Tulisan ini gue dedikasikan buat...Kami.

6 komentar:

Unknown mengatakan...

prikitiew...


Noni Setianingsih mengatakan...

wah gue kira mau posting tentang seagames. rupanya tentang pujaan hati kah dia? haha


Unknown mengatakan...

Tuhan punya caranya sendiri untuk semua yang telah kita lakukan man..tapi yang jelas pengorbanan = kesuksesan/keberhasilan..

klau kata pa mario...seberapa berani anda mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan apa yang kau inginkan..n_n


Ardi mengatakan...

Noni: Setali tiga uang Non. hehe

Heri: Super sekali Pak HeryLagam. I do agree, modal untuk meraih sukses adalah mimpi dan kerja keras.


Ardhito Dharma mengatakan...

gak malu apa narsis di tengah2 keramaian gitu? :D


Azrina mengatakan...

narsis banget yak hihi :D


Posting Komentar

 
© 2009 - Mei9satu | Free Blogger Template designed by Choen

Home | Top